wajahborneo.com, Seruyan – Dinas Koperasi, Usaha Kecil Menengah, Perindustrian, dan Perdagangan (Koperindag) Kabupaten Seruyan terus berupaya meningkatkan kualitas dan daya saing produk kerajinan khas daerah agar mampu menembus pasar nasional hingga internasional.
Salah satu fokus utama saat ini adalah standarisasi mutu produk serta pemanfaatan ekosistem digital untuk memperluas jangkauan pemasaran.
Kepala Dinas Koperindag Seruyan, Adhian Noor, Senin, 15 Juni 2026, mengemukakan, jika kualitas sebuah produk kerajinan, khususnya yang berbahan dasar kulit dan rotan, sangat ditentukan oleh detail teknis seperti kerapian jahitan.
“Kualitas jahitan itu sudah ada standar nasionalnya. Konsumen bisa menilai kualitas tas, merek, atau baju dari jahitannya. Jika jahitannya rapi dan jarak antarlubang jarumnya konstan (konsisten), maka produk tersebut dinilai berkualitas tinggi,” katanya.
Untuk mencapai standar tersebut, Dinas Koperindag telah menyelenggarakan pelatihan khusus selama 14 hari yang diikuti oleh 15 perajin asal Seruyan. Pelatihan ini tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan individu, tetapi juga pada teknik optimalisasi dan peningkatan mutu (upgrade) mesin jahit yang digunakan.
Menurut Adhian, meskipun menggunakan mesin yang sama, hasil akhir bisa berbeda jika para perajin tidak memahami teknik pengaturan mesin dan jarum yang benar.
Produk kerajinan Seruyan yang memadukan material kulit dan rotan dinilai memiliki potensi yang sangat besar, bahkan sudah pernah diperkenalkan ke mancanegara karena unik dan khas.
Di Kabupaten Seruyan sendiri, wilayah Hanau dan Seruyan Tengah menjadi basis utama para perajin yang aktif berproduksi, ditambah dua orang perajin dari Kuala Pembuang. Para perajin yang dilatih merupakan mereka yang sudah berada di tingkat mahir dan siap memproduksi barang dalam jumlah tertentu.
Rencana Menembus Pasar Digital
Menyadari tantangan geografis Kabupaten Seruyan yang cukup jauh dari pusat keramaian, Dinas Koperindag menilai dinamika saat ini, pemasaran konvensional (offline) sudah kurang memadai. Sebagai solusinya, pemerintah daerah tengah mempersiapkan para perajin untuk masuk ke ekosistem digital, seperti Shopee dan platform marketplace nasional lainnya.
Untuk mendukung langkah ini, Dinas Koperindag bekerja sama dengan ISEI (Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia) yang ketua-nya juga Bupati Seruyan, Ahmad Selanorwanda, berencana menggelar workshop pemasaran digital (digital marketing) pada akhir bulan ini atau awal bulan depan.
“Kalau kita mengandalkan penjualan offline, pergerakannya lambat karena jarang ada orang yang lewat atau berkunjung langsung. Tapi kalau kita masuk ke marketplace nasional, produk kita bisa diakses dan dibeli dari mana saja. Sistem pengiriman dan biayanya pun sudah diatur dengan jelas melalui kerja sama platform, berbeda jika kita mengirimnya secara mandiri yang biayanya jauh lebih mahal,” ujarnya.
Menjamin keberlanjutan stok (continuity) barang saat permintaan di marketplace melonjak, Adhian menegaskan, perajin yang dilibatkan adalah mereka yang telah memiliki NIB (Nomor Induk Berusaha). Hal ini memastikan bahwa para perajin tersebut memang serius, konsisten, dan siap secara kapasitas produksi, bukan perajin yang hanya berproduksi secara musiman.
Adhian optimistis dengan potensi harga yang sangat kompetitif produk lokal asal Seruyan bisa diterima konsumen secara luas. Ia mencontohkan, produk tas kulit sejenis yang di pasaran luar daerah dijual dengan harga hingga Rp2,5 juta. Sementara di Seruyan, produk tersebut bisa didapatkan dengan harga Rp1,5 juta dengan kualitas yang setara.
“Dengan adanya standarisasi produk dan pembukaan jalur pasar digital ini, diharapkan kerajinan khas Seruyan dapat menjadi komoditas unggulan yang mampu menyejahterakan para perajin lokal secara berkelanjutan,” tuturnya. (red3)

