wajahborneo.com, Palangka Raya — Memperdalam pemahaman soal sistem penanggulangan bencana yang terintegrasi, pekan lalu Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Tengah menyambangi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta.
Kunjungan ini digagas sebagai langkah Komisi III untuk menyerap pengalaman BPBD DIY, yang dikenal memiliki sejumlah program unggulan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana.
Dalam pertemuan tersebut, BPBD DIY memaparkan sejumlah program andalannya, salah satunya Desa Tangguh Bencana (Destana), yang menitikberatkan pada pelibatan aktif warga dalam tahap mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan darurat saat bencana terjadi.
Selain itu, BPBD DIY juga menerapkan pola edukasi kebencanaan dan simulasi rutin yang digelar BPBD DIY untuk menumbuhkan budaya siaga bencana di tengah masyarakat, terutama dalam hal pelibatan masyarakat dan penguatan kapasitas lokal, dapat menjadi rujukan bagi Kalimantan Tengah. Sehingga penanganan bencana ke depan bisa berjalan lebih partisipatif, terintegrasi, dan berkelanjutan.
“Kami sengaja memilih BPBD DIY sebagai lokasi kunjungan kerja karena daerah ini dikenal memiliki sistem penanggulangan bencana yang cukup matang dan sudah teruji di lapangan. Kalimantan Tengah memiliki karakteristik ancaman bencana yang berbeda, tapi prinsip pelibatan masyarakat yang diterapkan di sini sangat relevan untuk kita adopsi,” ujar Ketua Komisi III DPRD Kalteng, Sugiyarto, Senin, 1 Juni 2026.
Sugiyarto menambahkan, Program Desa Tangguh Bencana BPBD DIY cukup menarik karena menempatkan masyarakat bukan sekadar sebagai objek, tapi sebagai pelaku utama dalam mitigasi dan penanganan awal bencana.
“Ini yang ingin kami dorong juga di desa-desa rawan bencana di Kalteng, khususnya di wilayah yang rutin terdampak karhutla dan banjir,” katanya.
“Kunjungan itu bukan hanya sekadar seremonial saja. Ada catatan-catatan penting ini untuk dibahas bersama eksekutif, supaya penguatan kapasitas BPBD dan masyarakat di Kalteng bisa segera direalisasikan, bukan hanya jadi wacana,” paparnya. (din/red2)

