Kalteng Siaga: Ini Kata Wakil Ketua DPRD soal Ancaman Karhutla

Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Muhammad Ansyari. Foto/Ist//wajahborneo.com

wajahborneo.com, Palangka Raya — Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali mengintai Kalimantan Tengah (Kalteng) seiring datangnya musim kemarau. Untuk itu, Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Tengah, Muhammad Ansyari, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama di kawasan lahan gambut yang dikenal mudah terbakar dan sulit dipadamkan.

Ansyari, Selasa, 23 Juni 2026, mengatakan, langkah pencegahan jauh lebih efektif dibandingkan upaya pemadaman setelah api telanjur membesar. Menurutnya, karakteristik lahan gambut di Kalteng membuat api dapat menyebar dengan cepat di permukaan, bahkan terus membara di bawah tanah sehingga proses pemadaman menjadi jauh lebih rumit.

“Lahan gambut sangat rentan. Karena itu masyarakat perlu lebih berhati-hati saat beraktivitas agar tidak memicu munculnya api yang dapat menyebar dengan cepat,” katanya.

Dia secara khusus menyoroti kebiasaan sebagian masyarakat yang masih membuka lahan dengan cara membakar. Praktik ini, kata dia, harus dihentikan karena berisiko memicu kebakaran berskala besar yang sulit dikendalikan aparat di lapangan.

Ansyari mengingatkan bahwa dampak karhutla tidak hanya berimbas pada kerusakan lingkungan semata. Kabut asap yang ditimbulkan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat secara luas. Roda ekonomi, transportasi, hingga kegiatan belajar mengajar juga rawan lumpuh apabila kebakaran meluas dan asap menyelimuti wilayah permukiman.

Dorong Sinergi Pemda, BPBD, dan Masyarakat

Untuk mencegah meluasnya titik api, Ansyari mendorong pemerintah daerah, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat keamanan, serta pemerintah desa agar mengintensifkan edukasi dan sosialisasi pencegahan karhutla hingga ke tingkat akar rumput.

Menurutnya, keberhasilan pengendalian karhutla tidak bisa hanya dibebankan kepada petugas di lapangan, melainkan membutuhkan keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat dalam menjaga lingkungan sekitar mereka.

“Kolaborasi seluruh pihak menjadi kunci agar titik api dapat dicegah sejak awal. Dengan begitu, lingkungan tetap terjaga dan masyarakat dapat beraktivitas dengan aman selama musim kemarau,” tuturnya. (din/red2)

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

error: Content is protected !!
Exit mobile version