wajahborneo.com, Seruyan — Keseriusan perusahaan besar swasta (PBS) terhadap penanggulangan bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah (Kalteng), dipertanyakan. Pasalnya, puluhan perusahaan itu tidak menyampaikan laporan kesiapan penanganan Karhutla ke Pemerintah Daerah (Pemda).
Mirisnya, dari 41 perusahaan (Data PBS Pemkab Seruyan 2026) berisi perusahaan PBS Kelapa Sawit, IUPHHK-HA (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Alam) dan IUPHHK-HT (Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu-Hutan Tanaman) di Kabupaten Seruyan, hanya empat korporasi yang terdata melaporkan kegiatan soal Karhutla di wilayahnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seruyan, Agus Supriadi, usai mengikuti zoom meeting Pemerintah dengan Pemegang HGU dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan dalam Penanggulangan dan Penanganan Puncak Karhutla di Aula Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Seruyan, Senin, 7 September 2026, mengatakan saat ini pihaknya masih melakukan pendataan terhadap perusahaan-perusahaan tersebut.
“Baru empat perusahaan yang menyampaikan data,” kata Agus, dalam keterangan singkatnya.
Ironisnya lagi, raksasa-raksasa sawit ini, selain tidak menyampaikan rencana ataupun mitigasi penanganan Karhutla, tidak diketahui secara pasti apakah PBS-PBS tersebut memiliki alat-alat khusus yang memenuhi standar penanganan karhutla.
Indikasi lain ketidakseriusan PBS bisa dilihat langsung pada saat gelaran apel siaga darurat karhutla dan kekeringan pada Juli lalu, yang kemudian dilanjutkan dengan surat edaran Bupati Seruyan tertanggal 24 Agustus 2026. Hanya beberapa perusahaan saja yang mengabsen. Padahal apel tersebut merupakan momen penting dalam upaya me-mitigasi, koordinasi, dan sinergi dalam penanganan Karhutla di seluruh wilayah Kabupaten Seruyan.
Meski minim respon dari PBS, saat ini BPBD Seruyan masih menunggu data dari perusahaan sekaligus akan segera melakukan monitoring.
Seperti diketahui, data update karhutla Kabupaten Seruyan per 7 September 2026, luasan lahan terbakar mencapai 829 hektar, dengan jumlah titik panas (hotspot) terdeteksi sebanyak 2.684 titik. (red3)
