wajahborneo.com, Seruyan — Antrean panjang kendaraan memenuhi sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Kabupaten Seruyan terpantau sejak Rabu, 29 April 2026 diduga dipicu kombinasi antara kekosongan stok Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dan kepanikan masyarakat (panic buying) yang khawatir tidak kebagian bahan bakar.
Fenomena ini memaksa sebagian besar pengendara yang biasanya menggunakan Pertamax beralih ke Pertalite. Kondisi itu menyebabkan volume antrean meningkat drastis di sejumlah jalur pengisian minyak bersubsidi.
Pengawas SPBU PT Berkat Ridho Seruyan, Rusdi, mengungkapkan tingginya daya beli beberapa hari terakhir diperparah oleh rasa panik warga. Banyak pengendara memilih mengantre berjam-jam demi memastikan kendaraan mereka mendapatkan Pertalite.
“Sejauh ini pengiriman dari Pertamina masih berjalan, meskipun terkadang ada jeda antara waktu pemesanan dan kedatangan stok,” katanya.
Di sisi lain, Admin SPBU Buih Seruyan, Sinta, mengutarakan, jika stok Pertamax sempat mengalami kekosongan selama dua hingga tiga hari terakhir. Faktor utama terhambatnya pasokan adalah kendala armada angkutan dari Sampit yang menuju ke wilayah Seruyan.
Namun demikian, meski terjadi antrean, pihak SPBU memastikan harga tetap mengikuti regulasi pemerintah melalui PT Pertamina (Persero).
Berikut rincian harga BBM yang berlaku di SPBU :
| Pertalite | Rp 10.000/liter |
| Pertamax | Rp 12.600/liter |
| Biosolar | Rp 6.800/liter |
| Dexlite | Rp 24.150/liter |
Sementara itu, untuk menjaga ketersediaan, pihak pengelola SPBU menerapkan sistem manajemen rotasi mingguan guna menyiasati fluktuasi kuota dari Pertamina.
Di tempat berbeda, pedagang eceran, Imai menyebutkan, minyak jenis Pertalite yang dijual dipinggir jalan berada di harga Rp13.000 per liter, sedangkan Pertamax Rp15.000 per liter, dan Solar Rp12.000 per liter. Akan tetapi jika sedang langka harga solar eceran harganya bisa naik hingga Rp20.000 per liter.
- Kontributor : Said Muhamad Dandi
- Editor : Bam Hermanto
