Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan Makanan Usai Konsumsi Menu MBG, Olahan Telur Terindikasi Basi

Ahli Gizi SPPG Seruyan Hilir, Wilayah Puskesmas 1, Firda Amalia (tengah) saat diwawancara awak media di Gedung SPPG Kuala Pembuang, Kecamatan Seruyan Hilir, Kamis, 30 Juli 2026. Foto/Said M. Dandi

wajahborneo.com, Seruyan — Sebanyak 105 siswa dan 19 guru dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) 1 dan Sekolah Menengah Atas (SMA) 1 di Kuala Pembuang diduga mengalami gejala keracunan makanan setelah mengonsumsi sajian Makan Bergizi Gratis (MBG), Selasa 28 Juli 2026. Hingga Kamis siang, total keseluruhan korban yang mengeluhkan sakit perut dan mual mencapai 124 orang.

Kepala SMP Negeri 1 Kuala Pembuang, Mardiana, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis, 30 Juli 2026, mengutarakan peristiwa tersebut bermula pada hari Selasa lalu, saat paket makanan MBG tiba di sekolah. Salah seorang guru yang bertugas menguji kelayakan makanan baru sempat mencicipinya sekitar pukul 11.00 WIB karena harus mendampingi kegiatan lain terlebih dahulu.

“Saat kami cicipi, lauk telur dalam paket tersebut terindikasi sudah basi dan mengeluarkan bau tidak sedap. Namun, sebagian besar siswa dan guru sudah terlanjur mengonsumsi paket makanan tersebut lebih awal,” ujarnya.

Dia menyebut, adapun menu makanan yang dibagikan waktu itu terdiri dari nasi, telur orak-arik, tumis/oseng wortel dan kubis, tahu, serta buah naga. Kuat dugaan penyebab keracunan mengarah pada olahan telur, mengingat beberapa guru yang hanya mengonsumsi nasi dan sayur tanpa telur tidak mengalami gejala sakit.

Mardiana menambahkan, gejala mulai dirasakan massal pada Rabu pagi 29 Juli 2026. Banyak siswa dilaporkan tidak hadir ke sekolah, disusul dengan sejumlah guru yang mengeluhkan pusing, demam, diare berulang, hingga muntah. Jumlah korban terus bertambah hingga Kamis 30 Juli 2026, di mana 10 guru tambahan dilaporkan jatuh sakit dengan total mencapai 15 orang. Dampak keracunan makanan tersebut didominasi siswa kelas 7 dan kelas 9.

“Kalo dugaan kami telur dalam menu MBG tersebut yang bermasalah atau sudah basi, karena terdapat beberapa guru yang mengkonsumsi tanpa telur hingga kini masih sehat,” katanya.

Sementara itu, Ahli Gizi SPPG Seruyan Hilir, wilayah Puskesmas 1, Firda Amalia, menjelaskan menu MBG yang disalurkan ke setiap sekolah sudah melalui uji organoleptik. Untuk itu, sebelum didistribusikan ke sekolah makanan dipastikan dalam keadaan bagus dan layak dikonsumsi.

“Saya ingin menyampaikan, pada menu MBG kami hari Selasa itu, sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah ataupun Posyandu, biasanya kami telah melakukan uji organoleptik. Di mana uji organoleptik itu kami coba dulu dari segi warna, rasa, dan bau. Nah, sebelum didistribusikan itu kami coba dulu dan menu pada waktu itu dalam keadaan bagus,” ujarnya.

Menurut dia, laporan keracunan makanan diterima kemarin sore, setelah mendapat informasi tersebut pihak SPPG langsung melakukan investasi guna mengetahui penyebabnya. Pada tingkat SMA sendiri terdapat 34 orang yang sakit perut dan diare, dengan rincian 30 siswa dan 4 guru.

Firda menambahkan, setiap sekolah atau Posyandu sudah diberikan lembar uji organoleptik. Jadi di setiap sekolah/Posyandu tersebut ada pihak yang bertanggung jawab. Jadi sebelum dibagikan ke anak-anak uji organoleptik berperan penting. Pihak SPPG telah memastikan sebelum disalurkan menu MBG sudah diperiksa terlebih dahulu. Kalau memang makanan tersebut tidak layak untuk dikonsumsi, maka pihak sekolah berhak tidak membagikan makanan itu kepada anak-anak.

“Untuk di tingkat SMP dibagikan sebanyak 653 orang. Itu plus dengan guru dan tenaga pendidik. Kalau di SMA didistribusikan sebanyak 1.026 orang,” jelasnya.

Dia menegaskan, ke depan yang lebih penting pihaknya akan menghindari menyajikan menu yang mudah basi dan tidak tahan lama, Penyajian menu juga  mengambil saran dari berbagai pihak termasuk warga sekolah. Dengan menghadirkan sajian MBG yang disukai anak-anak dan banyak mengandung nilai gizi.


  • Kontributor : Said Muhamad Dandi
  • Editor           : Bam Hermanto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

error: Content is protected !!
Exit mobile version