wajahb👁️rneo.com, Palangka Raya – Tradisi wisuda di sekolah-sekolah disorot kalangan legislatif. Sekretaris Komisi II DPRD Kalimantan Tengah, Bryan Iskandar, menyuarakan keprihatinannya terhadap tren pelaksanaan wisuda yang dinilai mulai keluar dari esensi awalnya sebagai bentuk penghargaan sederhana atas capaian siswa.
Menurut Bryan, momen wisuda yang semestinya menjadi ajang syukur dan kebersamaan kini justru berubah menjadi kegiatan seremonial mewah yang tak jarang menguras biaya besar.
“Kegiatan seperti wisuda seharusnya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi semua orang tua. Jangan sampai malah jadi beban finansial dan menimbulkan kecemburuan sosial di tengah masyarakat,” katanya, Senin, 26 Mei 2025.
Bryan menekankan pentingnya kepekaan pihak sekolah terhadap kondisi ekonomi orang tua murid yang beragam. Dalam pandangannya, pendidikan semestinya tidak dibarengi dengan tekanan sosial akibat beban biaya seremonial.
Bryan mendesak Dinas Pendidikan Provinsi Kalteng agar tidak tinggal diam. Ia meminta instansi tersebut segera menyusun pedoman pelaksanaan kegiatan sekolah yang lebih berpihak pada prinsip inklusivitas dan kesederhanaan.
“Kami harap ada pengawasan dan regulasi yang jelas agar kegiatan-kegiatan sekolah, termasuk wisuda, tetap menjunjung nilai pendidikan dan tidak melenceng menjadi ajang pamer,” ujarnya.
Dia mengajak seluruh sekolah untuk lebih bijak dalam menyusun agenda kegiatan yang melibatkan partisipasi orang tua. Tujuannya agar semangat kebersamaan tetap terjaga dan nilai-nilai pendidikan menjadi prioritas utama, bukan sekadar euforia sesaat.
“Pendidikan harus membentuk karakter, bukan menciptakan kesenjangan,” tutupnya. (din/red2)

