WAJAHBORNEO.com, Seruyan – Paparkan kinerja tahun 2021 sekaligus menyampaikan rencana kerja tahun 2022, PT Rimba Raya Conservation menggelar pertemuan tingkat kabupaten di Lapangan Tennis Indoor, Kuala Pembuang Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah, Rabu, 16 Maret 2022.
Pemaparan dan rencana program tahun 2022 dengan tema KawaL Rimba, ‘Bersama Menjaga untuk Dijaga’ itu dibuka secara resmi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Seruyan, Djainu’ddin Noor dihadiri Kepala SOPD dilingkup Pemkab Seruyan, Camat Danau Sembuluh dan Seruyan Hilir, Kepala Desa (Kades) dan Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD).
Sekda Seruyan Djainu’ddin Noor saat membuka kegiatan tersebut mengatakan, Pemkab Seruyan mendukung upaya Rimba Raya Conservation dalam menjaga hutan dan lingkungan tetap lestari. Pemahaman tersebut juga harus sejalan dengan masyarakat setempat sehingga saling bersinergi dalam upaya mendukung pembangunan yang berkelanjutan.
Disisi lain kata Djainu’ddin Noor, Rimba Raya juga memiliki program-program yang bersentuhan langsung dengan masyarakat di desa-desa binaannya mulai dari program pendidikan, pelayanan kesehatan dan lainnya.
Sementara, Direktur Eksekutif Rimba Raya Conservation, Sylviana Andhella saat menyampaikan paparannya mengatakan, pekan lalu, dia melakukan kunjungan ke beberapa lokasi kerja Rimba Raya dan melihat sendiri betapa kayanya hutan dan lahan gambut yang dimiliki Kabupaten Seruyan.
“Dari pengalaman itu, saya membayangkan betapa megah dan indahnya jika pohon-pohon besar masih berdiri kokoh di pinggiran Sungai Seruyan,” katanya.
“Dalam kunjungan saya, saya seringkali mendengar kata “dulu di sini ada pohon ulin besar, mbak” tapi sekarang untuk melihat pohon ulin, harus berjalan cukup jauh ke dalam hutan untuk tahu bentuk pohonnya, kita harus mencarinya melalui buku, padahal kita ada di tempat dimana pohon ulin berada,” katanya lagi.
Sylviana menjelaskan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Seruyan, dengan luasan Seruyan yang lebih kurang sekitar 1,64 juta hektar, izin yang diamanatkan kepada Rimba Raya ternyata hanya 2 persen dari luasan Kabupaten Seruyan.
Tetapi katanya, jika 2 persen hutan dan lahan gambut yang ada di kawasan restorasi itu rusak, dampaknya sangat fatal. Bahkan terakhir para peneliti Climate Central membuat simulasi berdasarkan data laju kerusakan gambut, jika lahan gambut terus-menerus dikeringkan, terbakar dan rusak, pada 2060 salah satu lokasi yang terancam hilang akibat meningkatnya permukaan air laut adalah Kuala Pembuang.
Dia menjelaskan, kita semua tidak harus merasakan sakitnya dulu, untuk menyadari akibat dari suatu hal. Cukup belajar dari bencana kebakaran tahun 2015 dan 2019, bencana kebakaran yang luar biasa, masyarakat Seruyan sekitar hutan harus tersiksa dengan kabut asap yang menimbulkan penyakit ISPA dan kerugian dibidang ekonomi, dan seperti yang kita semua ketahui dan bahkan rasakan, 2 tahun setelahnya banjir tinggi di Sungai Seruyan hingga masuk ke dalam rumah dan terjadi cukup lama. Cukup lah cerita kebakaran dan banjir itu yang dirasakan.
“Berkaca dari itu semua, penting bagi kita semua untuk merancang program kerja dan rencana pembangunan yang berkelanjutan, yang tidak merusak hamparan gambut yang mencegah kita dari ancaman bencana,” ujarnya.
“Dengan tidak bosan kami menyampaikan dharma dari President Director Rimba Raya, ‘Dengan melindungi hutan, kita menjaga semua kehidupan yang ada di dalamnya dan berkontribusi bagi penyeimbang iklim global. Berdayakan masyarakat agar turut terlibat di dalam menjaga hutan rawa gambut. Bersama kita mencintai bumi agar terjaga kelestariannya’. Kita bersama menjadi kawal rimba, menjaga rimba untuk dijaga rimba,” tuturnya.
