Dorong Ekonomi Seruyan, DPRD Kalteng Minta Pemerintah Perkuat Infrastruktur dan Ubah Pola Pikir Masyarakat

Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Ferry Khaidir. Foto/Ist

wajahb👁️rneo.com, Palangka Raya — Anggota Komisi III DPRD Kalimantan Tengah (Kalteng), Ferry Khaidir, menilai geliat ekonomi masyarakat di Kabupaten Seruyan menunjukkan tren positif, terutama di wilayah pedesaan. Ia menegaskan, momentum ini harus diiringi peran aktif pemerintah agar hasil ekonomi masyarakat dapat berkelanjutan, bukan hanya sesaat.

“Perekonomian masyarakat di pedesaan kini cukup menggeliat. Aspirasi yang paling sering kami dengar adalah soal kebutuhan bibit sawit dan ketersediaan pupuk. Karena harga sawit sedang bagus, semangat masyarakat untuk berkebun pun tinggi,” ujarnya, Selasa, 8 Juli 2025.

Ferry mengingatkan, pola pikir masyarakat masih cenderung pragmatis dan instan. Oleh karena itu, ia mendorong pemerintah daerah dan provinsi untuk terus membina serta mengubah mindset masyarakat agar lebih mandiri dan tangguh menghadapi dinamika pasar.

Menurutnya, upaya pembangunan yang telah dilakukan pemerintah provinsi, khususnya di sektor infrastruktur dasar seperti jalan dan akses penghubung, perlu diperkuat dengan sinergi antara pemerintah kabupaten dan provinsi. “Kepemimpinan kepala daerah yang baru harus mampu mengonsolidasikan pembangunan agar lebih terstruktur dan menyentuh kebutuhan warga,” tambahnya.

Selain sektor perkebunan sawit, Ferry juga menyoroti potensi besar di bidang pertanian dan perikanan yang selama ini menjadi penopang ekonomi masyarakat.

“Di wilayah hilir, masyarakat banyak yang bertani padi dan mengelola tambak ikan seperti bandeng. Penjualannya sudah lintas daerah, bahkan sampai ke Palangka Raya dan Jawa,” ujarnya.

Ferry menilai, pola kemitraan antara petani dan pengepul dari luar daerah juga menjadi bukti bahwa rantai produksi dan pasar sudah mulai terbentuk. Namun, Ferry menekankan pentingnya perbaikan infrastruktur pendukung agar hasil panen dan perikanan dapat terdistribusi dengan baik.

“Kalau jalan rusak, hasil panen sulit dijual. Itu bisa membuat harga jatuh. Jadi, pembangunan pertanian harus sejalan dengan pembangunan jalan. Kita tidak hanya bicara soal alat seperti traktor atau combine harvester, tapi juga memastikan akses ke ladang dan pasar dalam kondisi baik,” jelasnya. (din/red2)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Share via
Copy link