Himtani Kalteng Dorong Petani Jaga Eksistensi Samuda Sebagai Sentra Perkebunan Kelapa Dalam

KETUA DPD Himtani Kalteng, Drs H Nurul Edy MSi, saat mengunjungi petani kelapa dalam di Samuda, Kotawaringin Timur. Foto/Saripudin

WAJAHBORNEO.com, Sampit – Kelapa dalam merupakan komoditas pekebunan primadona masyarakat pesisir Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Guna menjaga eksistensi kawasan itu sebagai sentra penghasil kelapa dalam nomor tiga se-Indonesia, Himpunan Masyarakat Tani Nelayan Indonesia (Himtani) Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) aktif melakukan pembinaan petani, terutama agar mereka tak tergiur beralih membudidayakan kelapa sawit.

Ketua DPD Himtani Kalteng Drs H Nurul Edy MSi saat melakukan kunjungan ke Samuda, Kamis, 16 Juni 2022, menjelaskan, kawasan sentra perkebunan kelapa dalam di Kotim ini antara lain, Kecamatan Teluk Sampit, Pulau Hanaut, Mentaya Hilir Selatan, dan Mentaya Hilir Utara. Sebagian lagi masuk di wilayah pesisir Kabupaten Seruyan.

Dibincangi wartawan usai memberikan paparan pada “Diskusi Kajian Masa Jeda Kepala Daerah Definitif se-Kalteng” yang digelar Kuala Pembuang, Kabupaten Seruyan bersama tokoh KAHMI, Universitas Muhammadiyah Palangka Raya, dan Bawaslu Kabupaten Seruyan pekan tadi, Nurul Edy menyebut era keemasan perkebunan kelapa dalam di daerah ini pernah terjadi di akhir periode orde baru, akhir tahun 90-an.

“Perkebunan kelapa dalam ini merupakan usaha turun temurun masyarakat di daerah ini. Pada saat krisis moneter sekitar tahun 1997, harga kelapa per biji naik Rp 500 sampai Rp 600. Harga yang tinggi saat itu. Pendapatan petani meningkat drastis. Istilahnya, banyak petani yang kaya mendadak,” tutur mantan Asisten II Setda Provinsi Kalteng yang pernah menjabat sebagai Camat Pulau Hanaut, Katingan Kuala, dan Mentaya Hilir Selatan itu.

Dia melanjutkan, saat ini harga kelapa dalam tertahan di kisaran Rp 1.400 hingga Rp 1.500 per biji.  Kondisi demikian menyebabkan sejumlah petani tergiur beralih membudidayakan kelapa sawit yang harga tandan buah segarnya (TBS) kini kisarannya mencapai Rp 3.677,32 per kilogram, sesuai ketetapan Dinas Perkebunan Kalteng tahun 2022 untuk usia tanam 10-20 tahun.

“Himtani mendorong masyarakat di daerah ini tetap konsisten membudidayakan kelapa dalam, karena tetap lebih menguntungkan dan cocok dengan kondisi geografis di sini. Untuk komoditas kelapa sawit lebih cocok di kawasan Kotawaringin ke arah barat,” sebut Nurul Edy yang menemui masyarakat Samuda didampingi Ketua Bidang Media Massa Himtani Kalteng H Sutransyah.

Dijelaskannya, nilai ekonomis pekebunan kelapa dalam dibandingkan kelapa sawit, antara lain, harga jual hasil panen yang lebih stabil alias tidak fluktuatif seperti kelapa sawit, biaya tanam, perawatan, dan pemupukan yang lebih murah, masa panen relatif lebih cepat, usia produktif berbuah lebih panjang (mencapai 50 tahun), tingkat permintaan yang stabil untuk mencukupi kebutuhan nasional maupun ekspor ke mancanegara, serta pola tanam yang sudah sangat dipahami masyarakat setempat.

“Sayang jika keuntungan-keuntungan ini tidak kita pertahankan. Karena itu, Himtani Kalteng berupaya mendorong petani tetap menekuni perkebunan kelapa dalam ini,” lanjut mantan Pj. Bupati Kotawaringin Barat dan Sukamara ini.

Adapun langkah-langkah yang dilakukan Himtani Kalteng, di antaranya mendorong penambahan area perkebunan kelapa baru, menjembatani petani dengan pihak penyedia bibit kelapa unggul, serta merangkul investor penyerap hasil produksi petani kelapa dalam.

Untuk penambahan area tanam kelapa dalam, saat ini sudah tersedia lahan baru siap tanam dengan luasan sekitar 5 ribu Hektare (Ha). Lokasinya terbentang dari ujung Kecamatan Mentaya Hilir Utara hingga Desa Parebok, Kecamatan Teluk Sampit.

Kemudian, Himtani Kalteng juga sudah menjalin kerja sama dengan pihak penyedia bibit kelapa unggul yang dapat berbuah di usia 2,5 hingga 3 tahun sejak ditanam, memiliki tingkat produktivitas buah yang lebat, serta daging kelapa dalam yang tebal.

“Untuk penyerapan hasil produksi petani kelapa dalam, sudah ada pula investor yang berminat, bahkan siap membantu permodalan. Jadi, masyarakat petani bisa fokus pada pembudidayaan dan pengelolaan dengan pola kemitraan yang saling menguntungkan,” ujarnya.

Selain itu, lanjut Nurul Edy, Himtani Kalteng juga terus berkoordiansi dengan pemerintah daerah serta dinas terkait dalam upaya pembinaan petani serta perizinan usaha.

Solusi Kelangkaan Minyak Goreng Sawit

Upaya pembinaan Himtani Kalteng itu disambut antusias tokoh masyarakat petani di daerah ini. Di antaranya, H Jailani dan H Arifin yang merupakan tokoh masyarakat pembina kelompok tani (Poktan) kelapa dalam di empat kecamatan di Kotim.

H Arifin menyebut, pihaknya melalui kelompok tani yang ada siap mendukung kerja sama kemitraan dengan pihak swasta maupun pemerintah daerah yang digalang Himtani Kalteng itu.

“Kami berharap upaya ini dapat terealisasi secepatnya agar kesejahteraan masyarakat petani bisa ditingkatkan,” harapnya.

KETUA DPD HIMTANI Kalteng bertemu petani kelapa dalam di Samuda, Kotawaringin Timur, Kamis, 16 Juni 2022. Foto/Saripudin

H Jailani menimpali, petani sangat antusias dengan rencana kemitraan ini, lantaran budidaya kelapa dalam bukan hal baru bagi mereka. Secara turun temurun, warga setempat sudah terbiasa bertani kelapa dalam sebagai penopang perekonomian mereka.

Bahkan diakui Jailani, selain sebagai sumber penghasilan keluarga, produk perkebunan kelapa dalam juga sangat membantu masyarakat setempat untuk mencukupi kebutuhan minyak goreng seiring langka dan meroketnya harga minyak kelapa sawit belakangan ini.

“Kami tidak terlalu terdampak kelangkaan minyak goreng, karena secara tradisional dapat memperoduksi sendiri dari buah kelapa. Bahkan lebih sehat dibanding minyak sawit karena lemak jenuh dan kadar kolesterolnya lebih rendah,” kata Jailani.

Ditambahkannya, untuk 1 liter minyak goreng dapat dihasilkan dari empat butir buah kelapa.

Tinggalkan Balasan

copyright@wajahborneo.com

error: Content is protected !!
Share via
Copy link