wajahborneo.com, Palangka Raya — Memastikan ketersediaan bahan pokok dan stabilitas harga barang di wilayah Kalimantan Tengah. Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalteng melaksanakan sidak pasar di kota Palangka Raya menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN), dengan titik kumpul di depan Bank BRI Jalan Ahmad Yani Palangka Raya, Jumat, 7 Februari 2026.
Kegiatan sidak pasar ini dipimpin Staf Ahli Gubernur Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Pembangunan Kalteng Yuas Elko, Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Provinsi Kalteng, Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Kalteng Agus Candra, Perum Bulog Kanwil Kalteng, Polda Kalteng, Pangdam, dan lintas sektor lainnya. Sidak dilaksanakan pada beberapa titik seperti Pasar Besar, Pasar Kahayan, distributor dan pengencer LPG serta Gudang Bulog Palangka Raya.
Yuas Elko menyampaikan, hasil pemantauan di gudang Bulog stok pangan dipastikan aman untuk empat hingga enam bulan ke depan. Untuk stok beras medium di pedagang besar terpantau cukup memenuhi kebutuhan hingga Ramadan. Adapun catatan khusus terhadap komoditas cabai rawit dan cabai merah yang mulai mengalami kenaikan harga signifikan yakni Rp100.000 hingga Rp120.000 per kilogram.
“Kami mendorong pemerintah kabupaten/kota agar dapat menciptakan inovasi terkait penetapan harga di tingkat pengecer yang dihitung berdasarkan jarak angkut. Sekaligus mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aksi borong atau panic buying dan tetap berbelanja sesuai kebutuhan,” ujarnya.
Selain itu, dia menambahkan, perhatian serius juga tertuju terhadap harga LPG 3 kilogram di tingkat pengecer, yang mana saat ini harga gas subsidi mencapai Rp35.000 hingga Rp38.000 di kota Palangka Raya, bahkan menembus Rp50.000 sampai Rp60.000 di daerah pedalaman.
“Kami berencana menggelar pasar murah atau pasar penyeimbang guna menjaga stabilitas harga dan daya beli Masyarakat” katanya.
Sementara itu, Agus Candra menjelaskan, untuk komoditas tertentu terdapat regulasi tersendiri yang menjadi perhatian bersama lintas instansi. Pihaknya memahami regulasi yang ada dan akan memastikan suplai pangan, termasuk yang masuk dari luar pulau, serta memastikan stok tetap tersedia di Kalteng.
“Awal Ramadan biasanya terjadi fluktuasi harga di sejumlah komoditas. Kondisi tersebut dinilai wajar dan cenderung kembali stabil setelah Ramadan berjalan, namun setelah satu minggu umumnya harga kembali normal,” jelasnya. (din/red2)

