PDAM Tirta Seruyan Nyatakan Abrasi dan Tekanan Air Deras Saat Pasang Surut Sebabkan Jalan Sei Mitak Bawah Ambruk

Pj Direktur PDAM Tirta Seruyan, Afiruz Febian (kiri) diwawancara terkait jalan ambruk di Desa Sungai Mitak Bawah, Kamis, 8 Oktober 2026. Foto/Said M. Dandi/wajahborneo.com

wajahborneo.com, Seruyan – Terkait insiden jalan ambruk di Desa Sungai Mitak bawah, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Seruyan buka suara sekaligus menyatakan jalan tersebut ambruk karena tekanan gelombang air yang kuat dan abrasi, bukan disebabkan oleh intake atau jalur penyedotan air milik PDAM.

‎Penjabat (Pj) Direktur PDAM Tirta Seruyan, Afiruz Febian, diwawancara, Kamis, 8 Oktober 2026, mengatakan intake PDAM di Sungai Mitak sudah lama tidak beroperasi sejak bulan Juli 2026. Pasalnya, saat ini penyedotan air telah dialihkan ke intake Tanjung Paring karena air di Sungai Mitak sudah tidak layak untuk didistribusikan kepada pelanggan.

‎”Jadi terkait dengan intake Sungai Mitak, ini kami informasikan dulu sejak bulan Juli, persisnya di 28 Juli 2026, intake Sungai Mitak sudah tidak beroperasional 24 jam. Kenapa? Karena sudah intrusi air asin (Asin berlebihan). Sehingga kami mengalihkan ke intake Tanjung Paring. Bukan kami membela diri, karena posisi intake Sungai Mitak itu sudah nyaris off secara keseluruhan,” ujarnya.

‎Selain itu kata Afiruz, abrasi di Sungai Mitak juga disebabkan hidrologi pola air di wilayah itu yang merupakan daerah tumbukan. Karena menjadi daerah tumbukan air, tentunya sedikit demi sedikit menggerus dari posisi bawah siringnya. Pasang surut air sungai juga sangat berpengaruh terhadap pondasi jalan yang bersentuhan langsung dengan air sungai.

‎”Tekanan air sungai itu selalu berubah-ubah, ditambah dengan pasang surutnya air juga berpengaruh yang menarik dan mengantar air. Belum lagi arus dari lalu lalang perairan, sungai, armada, getaran, gelombang melalui bawah,” Penjabat (Pj) Direktur PDAM Tirta Seruyan, Afiruz Febian, Kamis, 8 Oktober 2026.

‎”Dengan kondisi demikian, lambat laun dengan pasang surut air sungai, akhirnya terjadi abrasi dan tergerus dari bawah pondasi yang menahan jalan sehingga jalan tersebut ambruk,” sambungnya.

‎Afiruz menjelaskan, pipa intake PDAM yang digunakan untuk menyedot air masih berjarak dua meter dari dasar tanah. Maka yang disedot melalui pipa murni hanya air dan tidak ada sedikitpun tanah yang terangkut.

‎”Pipa kami itu menyedot secara memanjang ke tengah. Bukan menyedot ke arah pasir di bawah. Kami menarik pada posisi air mengalir, tidak pada posisi tanah ditarik. Jadi bukan penyedot pasir. Sekali lagi, bukan pola penyedot pasir yang selang ditaruh di bawah disedot. Enggak, kita posisi di tengah sungai,” katanya.

Dijelaskan Afiruz, pihaknya telah menyusun pola hidrologi air dengan mempertimbangkan kemungkinan risiko sebelum menyedot air sungai. Begitu juga dengan kejadian jalan ambruk, PDAM Tirta Seruyan juga telah mengkoordinasikan dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan untuk tindak lanjutnya.


🔍 “Redaksi membuka ruang seluas-luasnya bagi para pihak/narasumber terkait untuk memberikan hak jawab, hak koreksi, maupun klarifikasi atas pemberitaan demi keberimbangan informasi”.


  • Kontributor : Said Muhamad Dandi
  • Editor           : Bam Hermanto

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

error: Content is protected !!
Exit mobile version