wajahborneo.com, Seruyan – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan akan menetapkan status siaga tanggap darurat kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Diprediksi puncak musim kemarau terjadi pada bulan Agustus hingga Oktober tahun 2026.
Rapat koordinasi ancaman Karhutla dan kekeringan di Kabupaten Seruyan tahun 2026 dipimpin Pelaksana Harian (Plh) Sekretaris Daerah Seruyan, dr Bahrun Abbas, di Aula BPBD Seruyan, Selasa, 30 Juni 2026, dihadiri juga Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Seruyan, Agus Supriadi, Kepala Damkar Seruyan, Nomo Koeswoyo, perwakilan kepala perangkat daerah, SOPD, dan FKPD.
Bahrun Abbas mengemukakan, pada tahun 2026 akan terjadi fenomena El Nino yang panjang. Hal ini dapat meningkatkan potensi terjadinya Karhutla di Kabupaten Seruyan.
“Kondisi kemarau yang dipengaruhi El Nino harus diantisipasi sedini mungkin. Pengalaman dari beberapa tahun lalu menunjukkan saat terjadi fenomena El Nino, potensi Karhutla jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kondisi normal,” ujarnya.
Dijelaskan Abbas, berdasarkan data BMKG terdapat empat hal penting yang wajib diwaspadai, seperti musim kemarau diprediksi datang lebih awal dan panjang, curah hujan berada di bawah kondisi normal, sehingga kondisi menjadi lebih kering, awal musim juga kemarau diperkirakan terjadi bulan Mei, serta puncak musim kemarau terjadi pada Agustus hingga Oktober 2026.
“Kita perlu melakukan pencegahan, mensosialisasikan kepada seluruh masyarakat, serta meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi Karhutla maupun kekeringan,” katanya.
Dia berharap, seluruh instansi teknis terkait untuk mengambil langkah-langkah pencegahan dan pengendalian lebih terencana, bersinergi, dan berkelanjutan.
“Sinergi yang kita lakukan kunci keberhasilan melindungi keselamatan masyarakat, melestarikan lingkungan, serta menjaga keberlangsungan perekonomian daerah,” jelasnya.
Sementara itu, Agus Supriadi menegaskan, berbagai upaya untuk mengantisipasi bencana Karhutla di Kabupaten Seruyan sudah dilakukan. BPBD Seruyan akan menetapkan status siaga tanggap darurat karena saat ini risiko kebakaran diprediksi meningkat. Hal tersebut tentu menggangu ekosistem alam dan kesehatan.
“Awal kemarau terjadi akhir Mei 2026 di Kabupaten Kapuas, Pulang Pisau, dan Katingan. Mereka juga sudah lebih dulu menetapkan status siaga tanggap darurat, dan memang dari beberapa kejadian karhutla di wilayah tersebut memang lebih banyak,” ujarnya.
Agus menegaskan, berdasarkan prediksi BMKG status siaga tanggap darurat Kabupaten Seruyan diperkirakan pada Juli 2026. Puncak kemarau Juli hingga Agustus ditandai dengan curah hujan rendah dengan peningkatan suhu udara ekstrem, karakteristik lebih kering, dan durasi lebih panjang mencapai 5 bulan.
- Kontributor : Said Muhamad Dandi
- Editor : Bam Hermanto

