Petani Sawit Kotim Dapatkan Peningkatan Kapasitas Pelatihan SDMP
Wajahb👁️rneo.com, Palangkaraya – Dalam pembukaan Pelatihan Teknik Budidaya Kelapa Sawit serta Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumberdaya Manusia Perkebunan (SDMP) Jum’at (19/6/2026), Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) Yephi Hartady Periyanto, ST mendorong petani sawit untuk naik kelas melalui peningkatan kapasitas, legalitas usaha, dan penerapan prinsip keberlanjutan.
Dalam pelatihan yang difasilitasi Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) itu, Yephy menegaskan petani pekebun harus meningkatkan kapasitas agar bisa naik kelas, dengan mampu melaksanakan standar budidaya dan pengelolaan panen kelapa sawit.
“Kalau bapak ingin naik kelas, bapak harus berada di standar harga itu,” kata Yephy, kepada 237 peserta pelatihan yang digelar di Hotel Bahalap Palangkaraya.
Yephy menerangkan, standar yang dimaksud adalah harga standar Tandan Buah Segar (TBS) yang rutin dibahas Dinas Perkebunan atau Dinas Pertanian bersama pihak perusahaan dalam periode tertentu, dengan mempertimbangkan indeks kualitas buah sawit.
“Mohon izin, saya harus sampaikan kepada bapak, ibu, sekalian, pemerintah itu mempunyai fungsi membina. Kalau saya mempunyai fungsi membina, saya harus jujur kepada anda,” kata Yephy, bahwa petani belum mempunyai kapasitas untuk memenuhi standar kelas sesuai harga TBS.
Yephy mengimbuhkan, untuk mendorong petani sawit naik kelas dapat melalui peningkatan kapasitas, legalitas usaha, dan penerapan prinsip keberlanjutan. Menurutnya, salah satu langkah penting yang harus dilakukan adalah mengurus Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai pintu masuk untuk mengakses program kemitraan, pelatihan, hingga sertifikasi.
“STDB adalah pintu gerbang untuk naik kelas,” kata Yephi.
Ia juga mendorong petani menargetkan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) maupun Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) guna meningkatkan daya saing dan akses pasar. Melalui peningkatan kompetensi, legalitas, dan standar keberlanjutan, petani sawit rakyat diharapkan semakin produktif, berdaya saing, dan sejahtera.
Karena itu, dengan pelatihan Program Pengembangan SDMP, Yephy berharap petani dapat belajar dengan baik untuk dapat meningkatkan kelas kualitas pertaniannya.
Sementara itu, Wakil Direktur AKPY, Dr. Idum Satia Santi, SP., MP., mengatakan keberhasilan sawit nasional tidak hanya ditentukan oleh bibit unggul, modal, atau teknologi, tetapi terutama oleh kualitas petani yang mengelola kebun. Menurutnya, industri sawit saat ini menghadapi tantangan peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman tua, serta tuntutan pasar global terhadap praktik perkebunan berkelanjutan.
“Keberhasilan sawit Indonesia ke depan ditentukan oleh kualitas manusianya, ditentukan oleh kualitas petaninya,” ujarnya.
Idum menegaskan bahwa investasi terbaik bagi petani adalah peningkatan pengetahuan dan keterampilan. Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan dalam proses panen dan pascapanen kerap menyebabkan hilangnya potensi pendapatan petani.
Pelatihan yang berlangsung pada 18 – 23 Juni 2026 tersebut diikuti 149 peserta bidang budidaya dan 88 peserta bidang panen serta pascapanen. Peserta dibekali materi pemeliharaan tanaman, pemupukan, konservasi tanah dan air, hingga teknik panen sesuai standar untuk meningkatkan produktivitas, mutu hasil, dan pendapatan petani.
Pada kesempatan yang sama, Kepala Bidang Perbenihan dan Budidaya, Dinas Perkebunan – Provinsi Kalimantan Tengah, Jayan Wahyudi, mengajak petani sawit untuk aktif memanfaatkan pelatihan yang difasilitasi BPDP sebagai sarana meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, baik dalam budidaya maupun pascapanen.
“Untuk itu, agar ilmu yang diperoleh selama pelatihan tidak berhenti pada peserta saja, tetapi dibagikan kepada petani lain agar manfaatnya lebih luas,” ujarnya.
Selain itu, Jayan mengingatkan pentingnya legalitas kebun melalui pengurusan STDB, karena hal tersebut berpengaruh pada akses pasar dan kestabilan harga TBS. Menurutnya, pemahaman soal pola kemitraan dan akses informasi juga penting agar petani tidak dirugikan saat harga sawit turun.
“Melalui pelatihan ini, Jayan berharap petani dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia, produktivitas kebun, serta kesejahteraan. “Kalau SDM petaninya meningkat, saya yakin produktivitas dan kesejahteraan petani sawit di Kalimantan Tengah juga akan ikut meningkat,” pungkasnya.

