Ancaman Gagal Panen Musim Kemarau: DPRD Barito Utara Desak Pemkab Bangun Sumur Bor

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Barito Utara, Ardianto. Foto/Ist

ωajàhßörneo.cóm, Barito Utara — Dampak musim kemarau yang berlangsung selama hampir dua bulan mulai mengancam produktivitas lahan pertanian padi warga. Mengeringnya debit air di Bendungan Trinsing membuat pasokan ke saluran irigasi primer, sekunder, hingga tersier terhenti total. Kondisi itu berpotensi memicu kekeringan parah pada petakan sawah produktif milik petani lokal.

Salah satu krisis pasokan air terparah melanda kawasan sentra pangan Trinsing Kiri, Kecamatan Teweh Selatan, Kabupaten Barito Utara, Kamis, 20 Agustus 2026.

Untuk bertahan, para petani yang tergabung dalam Kelompok Tani (Poktan) Maju Jaya Trinsing Kiri terpaksa menyedot sisa-sisa air dari parit di sepanjang jalan angkut (hauling) batu bara Kilometer 6. Namun, upaya darurat tersebut belum mampu mencukupi kebutuhan air untuk mempertahankan tanaman padi yang kian layu.

Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Barito Utara, Ardianto, langsung meninjau lokasi usai menerima aduan dari pengurus kelompok tani.

Demi mencegah kerusakan tanaman meluas, Ardianto langsung berkoordinasi dengan pimpinan PT BIMA untuk menyalurkan bantuan air darurat ke saluran tersier menggunakan armada mobil tangki penyiraman milik perusahaan.

“Setelah mendapat laporan dari pengurus kelompok tani Maju Jaya Trinsing Kiri, saya langsung turun ke lapangan. Setelah melihat kondisi di lokasi, ternyata benar tanaman padi mereka mengalami kekeringan akibat kemarau panjang,” ujar Ardianto.

Ardianto menginginkan Pemerintah Kabupaten Barito Utara melalui Dinas Pertanian untuk segera memetakan penanganan jangka panjang, seperti pembangunan sumur bor pertanian di titik-titik rawan kekeringan, meliputi kawasan Trinsing Kiri, Trinsing Kanan, hingga Trahean.

“Pembangunan sumur bor ini sangat penting dan mendesak untuk segera direalisasikan. Keberadaan sumur bor tidak hanya untuk mengairi tanaman padi saat kemarau, tetapi juga menyiram tanaman hortikultura dan sayuran warga,” katanya.

Ardianto berharap penanganan konkret dari pemerintah daerah dapat segera dieksekusi, agar para petani terhindar dari kerugian finansial akibat kegagalan panen.

“Alhamdulillah, respons cepat dari pihak swasta sangat membantu darurat air saat ini. Namun, intervensi pemerintah daerah melalui pembangunan infrastruktur sumur bor tetap menjadi solusi utama yang dinanti masyarakat,” jelasnya. (tio/bam/red2)

Tinggalkan Balasan

error: Content is protected !!
Share via
Copy link