WAJAHBORNEO.com, Seruyan – Perusahaan konservasi dan restorasi ekosistem PT Rimba Raya Conservation sukses menanam 34 ribu bibit mangrove (Bakau) di pesisir pantai dengan tingkat persentase 90 persen berhasil hidup sejak ditanam enam bulan lalu (Januari 2021). Tingginya tingkat keberhasilan hidup mangrove di pesisir pantai Seruyan tersebut tidak terlepas dari metode baru yang digunakan PT Rimba Raya bekerjasama dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Seruyan melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Seruyan, serta Seksi Pengelolaan Taman Nasional (SPTN) Tanjung Puting Wilayah II Kuala Pembuang.
Dengan menggunakan media bronjong bambu yang ramah lingkungan sebagai pelindung bibit kemudian dipagari dengan sistem dumping semi permeabel untuk menahan arus ombak di bibir pantai, keberhasilan berkembang mangrove mencapai angka tertinggi selama program rehabilitasi pantai ini dilaksanakan PT Rimba Raya Conservation.
“Tahun-tahun sebelumnya, memang kita juga melakukan penanaman di beberapa tempat, namun hasilnya tidak sebagus yang sekarang,” kata Haryo Ajie Dewanto, Forest and Landscape Rehabilitation Specialist PT Rimba Raya Consevation usai melakukan Ceremonial Mortality Checking, Tanaman Mangrove 2020/2021 di Pantai Tanjung Siamuk, Desa Sungai Undang Kecamatan Seruyan Hilir, Kabupaten Seruyan Kalimantan Tengah, Senin, 28 Juni 2021.
Pengecekan tersebut juga dilakukan bersama perwakilan DLH Seruyan, Kepala SPTN Tanjung Puting Wilayah II Kuala Pembuang, Budi Suriansyah, Sekretaris Direktur PT Rimba Raya Marcianus Siman, Local Goverment, Samsul Rizal dan Public Community Relation (PCR) Effendi.
Ajie mengakui keberhasilan penanaman bibit mangrove di area pantai yang berhadapan langsung dengan laut lepas tersebut berkat kolaborasi dengan berbagai pihak, bukan hanya PT Rimba Raya saja.
“Kita akui, kerjasama dengan berbagai pihak sangat penting, terutama Pemkab Seruyan, SPTN Tanjung Puting dan masyarakat,” katanya.
Ajie melanjutkan, PT Rimba Raya mendukung program Pemkab melalui rehabilitasi kawasan mangrove di Kabupaten Seruyan dan berkomitmen akan melakukan penanaman setiap tahun.
“Kita tidak hanya bicara soal mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Dalam rehabilitasi mangrove ini kita juga memberdayakan masyarakat setempat, sehingga ada nilai tambah bagi perekonomian mereka,” sambungnya.

Ditempat yang sama, Kepala SPTN Tanjung Puting Wilayah II Kuala Pembuang, Budi Suriansyah mengatakan, pentingnya rehabilitasi dan restorasi mangrove di kawasan pantai di Kalimantan Tengah, khususnya di Kabupaten Seruyan. Pasalnya, kawasan pantai semakin kritis, bahkan dalam 20 tahun terakhir panjang abrasi menggerus daratan hingga 2 kilometer dibeberapa tempat.
“Nilai penting mangrove adalah menjaga kestabilan pantai,. Saya berharap di Seruyan menjadi role model atau percontohan untuk Kabupaten-kabupaten lain yang memang ada pesisir pantainya untuk melakukan restorasi dan rehabilitasi mangrove,” katanya.
“Kita tahu dengan adanya perubahan iklim, ada peningkatan permukaan laut, kemudian ada penggerusan pantai. Itu memang tidak hanya disebabkan perubahan iklim tapi ada juga hal-hal yang memang lakukan oleh manusia,” lanjutnya lagi.
Budi menambahkan, kendala penanaman tidak semua orang bisa menguasai mangrove. menanam mangrove di gambut berbeda dengan di kawasan pantai. Itu menjadi tantangan tersendiri untuk berinovasi.
“Kemudian faktor alam, ketika terjadi perubahan iklim seperti sekarang, kita tidak bisa lagi menghitung kapan musim barat dan kapan musim tenggara. Karena perubahan iklim ini bersifat global, bisa saja itu terjadi karena pengaruh dari daerah luar yang meng-efek kesini (Seruyan), sehingga kita harus ada inovasi-inovasi bagaimana memperkecil dampaknya. Ini tantangan yang membuat kita harus berinovasi, beradaptasi dengan perubahan lingkungan global. Sementara mitigasinya bagaimana? Disitulah pentingnya peran serta dengan melibatkan masyarakat sebanyak-banyaknya,” paparnya.


