wajahb👁️rneo.com, Palangka Raya — Penutupan sejumlah pabrik pengolahan puya di Kalimantan Tengah membuat ribuan warga kehilangan sumber penghidupan. Kondisi ini memantik perhatian DPRD Kalimantan Tengah, setelah perwakilan petani mendatangi gedung dewan untuk menyampaikan langsung keluhan mereka, Selasa, 26 Agustus 2025.
Wakil Ketua Komisi II DPRD Kalteng, Bambang Irawan yang menyambut warga di Gedung DPRD menegaskan, penghentian operasi 5–7 pabrik puya dalam dua bulan terakhir telah melumpuhkan ekonomi masyarakat, terutama di wilayah Lahei Mangkutup, Sei Gawing, hingga Kapuas bagian atas.
“Pekerjaan sebagai pengumpul puya menjadi tumpuan hidup ribuan orang. Kini mereka kehilangan pasar karena pabrik berhenti beroperasi hampir bersamaan. Dampaknya sangat serius,” katanya.
Bambang menjelaskan, penyebab tutupnya pabrik belum jelas—apakah karena masalah perizinan, kebijakan pemerintah, kendala pemasaran, atau manajemen perusahaan. Ia memperkirakan, lebih dari 10 ribu warga kini terdampak.
“Kalau dibiarkan, masalah sosial seperti meningkatnya kriminalitas bisa muncul,” tambahnya.
DPRD Kalteng katanya, berencana segera berkonsultasi dengan pimpinan dewan untuk menggali akar persoalan dan mencari solusi konkret.
“Setiap kebijakan harus mempertimbangkan nasib masyarakat kecil. Regulasi dan hukum tetap dijalankan, tapi negara juga wajib menjamin keberlangsungan hidup rakyatnya,” tegas Bambang.
Bambang menegaskan DPRD akan mengawal persoalan ini hingga tuntas. Ia berharap pemerintah daerah bersama pihak terkait bisa mengambil langkah cepat agar roda ekonomi masyarakat kembali berputar.
“Jangan sampai kebijakan yang tidak jelas justru menjerumuskan rakyat kecil ke jurang kemiskinan,” tegasnya. (din/red2)
